Support

JIKA TERLANJUR "MAKING LOVE" SEBELUM BERBUKA.

Darulamanku Live | 4:12 AM | 0 Komen Penyokong


Apa jadinya jika seseorang terlanjur ML (Making Love) sebelum berbuka puasa? 
Apakah batal puasanya? 
Lantas apa yang harus ia lakukan?
Lantas bagaimana kalau yang melakukannya seorang musafir?


Mari kita semak kata-kata Abu Hurairah رضي الله عنه berikut ini: “Tatkala kami sedang duduk di dekat Nabi صلى الله عليه وسلم, datanglah seorang lelaki kepada beliau lalu berkata, ‘Binasalah aku, wahai Rasulullah! ’ Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu binasa? ’ Lelaki itu menjawab, ‘Aku telah menggauli (menyetubuhi) isteriku di bulan Ramadhan, padahal aku berpuasa! ’ Beliau bertanya, ‘Apakah kamu mampu membebaskan hamba ? ’.


Ia menjawab, ‘Tidak. ’ Beliau bertanya, ‘Apakah kamu sanggup puasa dua bulan berturut-turut? ’ Ia menjawab, ‘Tidak. ’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu mampu memberi makan enam puluh orangmiskin? ’ 



Ia menjawab, ‘Tidak. ’ Nabi صلى الله عليه وسلم pun terdiam. Tatkala itulah ada seseorang yang memberikan kepada beliau sekeranjang kurma. Beliau pun berkata, ‘Mana yang tanya tadi? ’ 


Lelaki itu berkata, ‘Ya, saya. ’ Beliau bersabda, ‘Ambil ini lalu sedekahkanlah. ’ Lelaki itu berkata, ‘Apakah kepada orang yang lebih miskin dibandingkan saya, wahai Rasulullah? 


Demi Allah, tidak ada di antara dua bukit Madinah ini, keluarga yang lebih miskin dibandingkan keluargaku. ’ Nabi صلى الله عليه وسلم pun tertawa hingga terlihat giginya. ‘Ya sudah, berikan itu untuk keluargamu,’ Kata beliau. (HR. Bukhari no.1834 dan Muslim no.1111)


Ada beberapa faedah dan kandungan hukum yang boleh kita petik dari hadits di atas, di antaranya:

1.Berdasarkan perkataan lelaki di atas :“Aku telah menggauli (menyetubuhi) isteriku di bulan Ramadhan, padahal aku berpuasa. “ boleh diambil hukum bahwa wajib bagi seseorang untuk menunaikan kafarat jika terpenuhi padanya tiga syarat:

a) Bersenggama(Bersetubuh)
Ertinya, jika ia melakukan selain itu, seperti petting, foreplay, atau yang semisalnya selama tidak sampai mengakibatkan “timba masuk sumur”, tak ada kewajiban atasnya untuk membayar kafarat.

Akan tetapi, bukan bererti, ini anjuran untuk melakukan semua itu (perkara selain senggama yang telah disebutkan). Kerana, dikhawatirkan dari yang seperti itu akan mengantarkan ke persenggamaan. Makanya Nabi صلى الله عليه وسلم pernah melarang seorang pemuda untuk bercumbu (dengan isterinya). Sedangkan dalam kesempatan lain beliau justru mengizinkan 
orang yang sudah tua untuk melakukan itu (HR. Abu Daud).

Sebab, berbeza bukan, gelora syahwat seorang pemuda dengan seorang tua renta? Seorang pemuda tatkala bercumbu dikhawatirkan tak kuat menahan dirinya, sehingga terjadilah yang terjadi. Sedangkan seorang yang tua mampu menahan dirinya.

b) Melakukannya di siang hari bulan Ramadhan.
Ertinya, jika ia melakukan ML di selain waktu fajar sampai maghrib, tak batal puasanya dan juga tidak wajib membayar kafarat. Bahkan itu sesuatu yang dibolehkan.
“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kalian; mereka adalah Pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah Pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, Karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi ma’af kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untuk kalian..” (QS. Al-Baqarah:187)

c) Dalam keadaan berpuasa.
Ertinya, jika seseorang tidak dalam keadaan puasa karena adanya uzur yang diizinkan syariat, seperti sakit, musafir dan lain-lain, lalu melakukan hubungan suami isteri, tidak ada kewajiban atasnya untuk membayar kafarat, karena itu sesuatu yang diperbolehkan baginya.

2. Berdasarkan pertanyaan Nabi: “Apakah kamu mampu membebaskan hamba ?” Lalu “Sanggup puasa dua bulan berturut-turut?” lalu “Mampu memberi makan enam puluh orang miskin?”
Boleh dipetik hukum bahwa wajib menunaikan kafarat secara berurutan. Dimulai dengan membebaskan hamba. Jika tak dapat atau tak mampu, berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika tak mampu, memberi makan kepada enam puluh orang miskin.

3. Yang diwajibkan untuk menunaikan kafarat di sini hanyalah suami sedangkan isteri tidak dibebani itu. Sebab, seandainya isteri itu wajib pula membayar kafarat, niscaya Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan lelaki di atas agar menyuruh isterinya membayar kafarat juga. Dan ternyata dalam hadits di atas, Nabi tidaklah memerintahkan untuk membayar kafarat melainkan hanya kepada lelaki itu saja.
Wallahu a’lam.

Category:

About GalleryBloggerTemplates.com:
GalleryBloggerTemplates.com is Free Blogger Templates Gallery. We provide Blogger templates for free. You can find about tutorials, blogger hacks, SEO optimization, tips and tricks here!

0 Komen Penyokong